PERMASALAHAN SEJARAH TARI, KHUSUSNYA DILIHAT PADA KASUS MASA JAWA KUNA
21.31
PERMASALAHAN SEJARAH TARI, KHUSUSNYA DILIHAT PADA KASUS MASA JAWA KUNA
1. Metodologi
Yang perlu menjadi perhà tian dalam suatu telaah Sejarah Tari adalah untuk mengenali batas-batas dan sumber-sumber yang digunakan dan menarik data yang sesuai dengan kemungkinan yang diberikan oleh batas-batas tersebut. karena itu perlu lebih dahulu diadakan pemerincian, segi-segi apa saja dari tari itu yang sebenarnya penting dan dapat dijadikan sasaran pengamatan. segi-segi tari yang (a) bersifat kewujudan dan (b) bersifat isi atau makna. Segi-segi tari yang bersifat kewujud akan menyangkut teknik tari dan tradisi -penampilan, sedang segi-segi tari yang bersifat isi atau rnakna akan mengena pada wilayah konsep keindahan serta fungsi dan peranan tari dalam konteks yang lebih besar.
Keterangan yang dikenal sampai waktu ini ada dua jenis, yaitu (a) hasil sastra, termasuk prasasti dan (b) relief pada candi candi. Apabila kedua jenis data tersebut di atas itu cukup dapat. dipercaya, maka: a. di data relief dapat diketahui hal-hal sebagai benikut: sikap-sikap tari, .kostum, instrumen-instrumen musik pengiring, - rakitan pertunjukan b. dan data sastra dapat diketahui hal-hal sebagai berikut: sifat gerak, kesan yang ditimbulkan, kualitäs penari, suasana pertunjukan, fungsi pertunjukan, jalannya pertunjukan, iringan musik, kostum, imbalan yang diberikan, dan seterusnya. Natyasastra adalah suatu kitab pegangan mengenai seni pertunjukan klasik India, khususnya berlaku dalam lingkungan Hindu, dan lebih khusus lagi dalam sekte Siwa. itu,Hinduisme yang terlihat masuk ke Jawa Tengah abad VIII-X itu juga dari aliran Siwa.
Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa Siwaisme yang amat berpengaruh di Jawa. Tengah itü membawa serta seluruh perangkat peribadatannya, terrnasuk seni tari klasiknya. Dengan demikian dapat dianggap bahwa kalau ada tari-tarian digambarkan dalam suatu percandian Siwa di Jawa Tengah, maka dasa-dasar tarinya akan menunjuk kepada Natyasastra sebagai sumber.
2. Tinjauan atas sumber sumber data
2.1. Data Sastra
Yang dimaksud dengan data sastra di sini adalah semua jenis data dan sumber tertulis. Dengan denmikian maka di samping hasil-hasil sastra berupa karangan tertulis yang berbentuk prosa maupun puisi, termasuk juga maklumat-maklumat yang dikenal dengan sebut dengan prasasti. berbentuk prosa ataupun puisi. Karya-karya sastra yang menunjukkan kemungkiran disusun pada masa Jawa Tengah adalah kitab Candakarana dan kakawin Ramayana. Selanjutnyakarya sastra Jawa Kuna berkembang pada masa Jawa Timur.
Prosa yang terusun dalani kalimat-kalimat bebas mengandung keleluasaan untuk menceritakan atau mengatakan sesuatu secara apa adanya, sedang puisi yang bentuknya terikat oleh ketentuan-ketentuan metrum tertentu, dalam penceritaannya tunduk pada ritmikyang sesuai dengan metrum-metrum (irama sajak) yang bersangkutan.
2.2. Data seni rupa
Relief-relief tari pada candi-candi, yang merupakan satu-satunya jenis data visual mengenai tari-tarian Jawa Kuna, terdapat dalam bebeapa macam penempatan di candi-candinya yang bersangkutan yaitu :
(a) dalam adegan-adegan dan rangkaian relief bercerita:
(b) dalam rangkaian relief yang sepenuhnya berupa relief tari;
(c) dalam panil-panil hiasan tersendiri pada dinding candi.
3. Beberapa pengamatan awal.
3.1. Penggolongan tari
Lapis pertama dinyatakan oleh sekumpulan data relief dari candi-candi Borobudur dan Rara Jonggrang (ditambah dengan dan candi-candi Kalasan, Sari dan Sewu), serta diberi bandingan data sastra dan kitab Ramayana kakawin dan prasasti-prasasti sezamannya. Lapis kedua rnisalnya dapat dinyatakan oleh sejumlah data prasasti dan masa pemerintahan raja Sindok. Lapis yang lebih muda lagi dapat dinyatakan oleh sejumlah data sastra dan masa Kadiri. Lapis yang lain lagi oleh data dan Nagarakretagama, Kemudian Wangbang Wideya, dan seterusnya. Dilihat dan segi teknik tari ini, dapat dibedakan tiga golongan tari. Yang pertama adalah tari-tarian yang memperlihatkan gaya yang tampan dan berimbang. Gaya yang diperlihatkan ini mengisyaratkan suatu irarna gerak yang beraturan (measured), Gaya ini pada waktu itu rupanya merupakan gaya yang baku.
Go1ongan kedua dilihat dari segi teknik tari ini diperlihatkan oleh sejumlah sikap tari yang mengisyaratkan gerak yang kasar dan lonjak lonjak. Melihat konteksnya, tari-tarian golongan ini diasosiasikan dengan pengertian “tarian pinggir jalan” atau tarian yang “tidak pantas”.
Golongan ketiga dilihat dan segi teknik tari ini diperlihatkan secara jelas hanya oleh satu relief; yang dimaksud di sini adalah teknik tari yang mengungkapkan kelucuan. Tari-tari tunggal semua dilakukan oleh wanita; ini dinyatakan oleh Borobudur maupun Rara Jonggrang. Sebagian tari-tarian tunggal ini disajikan di atas suatu level, yaitu panggung atau tempat yang ditinggikan . tan di istana maupun tari di desa. lstilah untuk rnenyebutkan penarii didapatkan dalam kakawin Ramayana, yaitu nartaki. Istilah ini khususnya berarti penari wanita. Sesuai dengan itu, tarian yang ditarikannya digambarkan sebagai bersifat lemah lembut, dibandingkan dengan cabang-cabang kayu yang bergerak gairah ditiup angin pelan.
Demikianlah, di atas ini telah diajukan suatu tinjauan berupa penggolongan atas satu saja di antara beberapa kelompok data yang didapat dan masa Jawa Kuna, yaitu khususnya kelompok data Borobudur — Rara Joaggrang. Kelompok ini dipilih untuk dibahas karena Ia merupakan kelompok data tari Jawa Kuna yang tertua; di samping itu ia mengandung data visual terbanyak, dengan sedikit saja data sastra sezaman yang mendampinginya, tetapi cukup besar arti data sastra luar yang dapat dibandingkan dengannya, yaitu darii kitan Natyasastra,
3.2. Dasar-dasar tari
Unsur gerak yang paling penting dalam pemberian kesan pertama atas suatu gaya tari adalah sikap-dasar-berdiri (stance) dan pengembangannya berupa motif-motif gerak tungkai. Dalam Natyasastra diuraikan mengenai beberapa modus tari yang bersangkutan dengan tungkai dan kaki ini ada yang disebut sthana, yaitu sikap berdiri; ada gerak satu kaki yang disebut caridan gabungan dua kaki disebut karana, gabungan tiga karana disebut khanda dan gabungan empat khanda disebut mandala di samping itu sikap atau gerak dan masing-masing bagian yaitu tungkai atas, tungkai bawah dan (telapak) kaki diberi peninciannya pula. Di antara sthãna- sthãna yang paling sering tampak dalam relief-relief tan Jawa Tengah adalah mandala stahana beserta pengembangannya dalam berbagai karana, disertai dengan sikap-sikap kaki tertentu.
Yang perlu menmdapatkan perhatian dalam hal ini adalah kenyataan bahwa semua tari’baku’ pada barabudur semuanya ditarikan oleh wanita, sedang semua tari pada panil-panil tari Rara Jonggrang, Sewu dan Kalasan semuanya ditarikan oleh laki-laki.
3.3. Fungsi tari dan fungsi penggambaran tari.
Penempatan yang berbeda beda ini menunjukkan pada fungsi pnggambaran tari yang berbeda beda pula, yaitu: (a) sebagai hiasan bangunan; (b) sebagai ilustrasi cerita atau ajaran.
Dalam fungsi (a) maka terllihat bahwa relief relief itu dibuat dan ditempatkan dengan dituntun oleh tujuan untuk :
(aa) memberikan kenikmatan kepada mata yang memandang dan
(ab) memwujudkan kesesuaian dengan sifat atau perlambangan yang dikandung oleh bangunan yang bersagkutan.
Suatu fungsi lain dari penggambarantari adalah sebagai ilustrasi cerita. Artinya adegan tari itu diperlukan oleh jalanya penceritaan. Secara garis besar ada tiga fungsi tari yang dapat dibedakan disini, yaitu;
(ba) tari sebgai ritus
(bb) tari sebagai sarana untuk mendapatkan kesenangan
(bc) tari sebagai pelengkap kebesaran seseorang atau ligkungan.
Fungsi pertama, yaitu tari sebagai bagian ritus, dapat diduga adanya pada relief relief yang menggambarkan kegiatan seni di dekat caitya.
Fungsi kedua, yaitu tari sebagai sarana untuk mendapatkan kesenangan, dengan kata lain adalah tari yang menekankan segi hiburannya.
Dalam fungsi ketiga, yaitu tari sebagai pelengkap kebesaran seseotang atau sesuatu lingkungan, tampak bahwa tari masuk juga dalam pengertian “pahala yang diterima akibat perbuatan baik dalam hidup yang lalu.
0 Komentar